Entri Populer

Rabu, 13 Oktober 2010

AYAH TEMANKU 01

         Seperti biasa sore itu aku berkunjung kerumah Ria yang merupakan salah satu teman baikku untuk sekedar curhat-curhatan, ya…. Ria adalah temanku sejak kecil hingga kini usia kami telah menginjak 18 tahun. Namaku Ary dan tinggal di daerah kota ”M” di sumatera dan jujur, aku adalah seorang gay tetapi sangat tertutup dan hampir tidak ada yang tahu kalau aku seorang gay. Oh,, Ary silahkan masuk? Sapa Ria penuh dengan kehangatan.
            Lalu kamipun ngobrol kesana-kemari membahas sesuatu yang menurutku tidak ada manfaatnya tetapi sangat menyenangkan sekali. ”oh ia, ibu kamu kemana? ” tanyaku. ”sedang pergi arisan di rumah bu’de sama addikku juga. Mungkin besok pulang karena bantu bu’de beres-beres dan membuat makanan juga.”jawab ria.  ”Assalamualaikum....” terdengar suara yang berat dan berwibwa. Ternyata suara itu adalah suara dari Om Zein yang baru puang kerja. Segera ria bergegas membukakan pintu untuk ayahnya itu. Om zein tersenyum padaku kemudian brlalau.
            Hal aneh muncul dalam otaku ketika melihat ayah temanku ini, memang dari dulu aku sangat mengagumi ayah temanku ini. Walupun rambutnya sedikit botak dengan perut buncitnya yang membulat indah itu apalagi melihat kumis tebal di atas bibirnya sangat terlihat kewibawaan dan kebapakannya.
            ”eh...!!!! melamun aja!!” ria mengagetkanku yang sedang memikirkan hal bodoh itu. ”hehe??” oh ia ria, aku mau ke kamar mandi sebentar ya soalnya lagi HIV(Hasrat Ingin Viviz)” jawabku. ”ah.. kamu ada-ada aja, yaudah di sebelah dapur ya kamar mandinya. Dah tau kan?” tanya ria. ”ya ampun aku bukan pertama kali kerumahmu ya”. Segera aku menuju kamar mandi.
            Sesampainya di depan pintu kamar mandi kulihat pintu kamar mandinya tertutup. Terdengar suara siraman air seperti orang mandi. ”duh,, siapa sih? Mana udah kebelet pipis ni?” gumamku dalam hati. Terdengar sura nyanyian samar-samar dari dalam. Ternyata om zein yang berada di dalam. Otak gay ku pun langsung bekerja membayangkan tubuh telanjang om zein yang basah dengan siraman air. Aku mulai kehilangan sedikit akal sehatku. Kucari celah dimana aku bisa melihatnya mandi. Sial tidak ada sedikitpun lubang di kamar mandi itu. Bahkan di pintunya pu tidak ada lubang kunci. Keika melihat ke atas akhirnya aku mendapatkan peluang itu.karena tembok kamar mandinya tidak sampai ke atap rumahnya, memberanikan diri dan karena telah dikuasai nafsu akhirnya aku menggeser kursi makan yang terletak di depanku dan menaikinya degan sebisa mungkin tidak mengeluarkan suara kemudian aku langsung melihat kedalam kamar mandi.
            Betapa tak percayanya aku melihat apa yang sedang ku lihat, om zein yang sedang bertelanjang bulat menyiram seluruh tubuhnya dengan air. Tidak hanya tubuh telanjangnya yang bisa kulihat tetapi daerah terintimnya pun menjadi pemandangan yang sangat jelas untuk ku nikmati. Terlihat om zein mengambil handuk uang terletak di gantungan handuk. Segera aku turun dari kursi dan dengan sangat hati-hati aku meletakkan kursi di tempat semula kemudian berdiri tenang seolah tidak ada kejadian.
            Om zein keluar dengan lilitan handuk di pinggangnya. ”Loh,, ary mau pakai kamar mandi ya?” tanyanya. ”ia om, mau buang air kecil” segera aku masuk kedalam kamar mandi dan membuang beban yang ku tahan sejak tadi, seketika aku teringat pemandangan yang baru ku lihat membuat ku ingin melepaskan beban yang satu lagi, akhirnya tanpa dikomando tanganku langsung mengocok penis ku dan lava putih pun keluar menandakan kembalinya otak normalku.
            ”lama banget kamu di kamar mandi?” tanya ria padaku. ”ia tadi ayahmu lagi mandi jadi aku nunggu.” jawabku sekenanya. Akhirnya kami melanjutkan obrolan hingga malam. ”oh ia, ini kan malam minggu ya? Aku sampai lupa.” makanya kamu cari pacar biar bisa ingat malam minggu!’’ ejek ria padaku yang memang betah dengan ke jombloanku.
            Tak lama pacar ria datang dan mengajak nya makan malam di luar. ”aku gak ikut ah, takut ganggu” sahutku ketika mereka mengajakku. Ayah ria datang menghampiriki, ”kenapa kok gak ikut?” sapanya. ”ia nih yah, ary gak seru!! Yah, kami pergi dulu ya..” jawab ria dan langsung berlalu meninggalkan aku dirumah nya bersama ayahnya.”om, ary  mau pulang ya?” ”loh,, kenapa?? Ini kan malam minggu. Om juga lagi sepi gak ada teman di rumah. Eh... ayo kita nonton TV, ada pertandingan bagus nih M.U VS Arsenal.”
            Aku pun menurut saja walaupun sesungguhnya aku sangat tidak menyukai sepak bola. Om zein mulai banyak bercerita tentang para pemain dan seputar club sepak bola tersebut, aku yang tidak mengerti bola hanya tersenyum-senyum saja. ”kamu kalau mau minum ambil sendiri ya, anggap aja rumah sendiri.” ”ia om,” jawabku sekenanya. Om zein memijit-mijit bahunya. ”kenapa om?” pertanyaan terbodoh itu begitu mudahnya keluar dari mulutku. Mungkin karena kegugupan ku berada di samping lelaki pujaan ku..................

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar